Subang,Lensa Deteksi news
Program Revitalisasi Satuan Pendidikan APBN 2026 digelontorkan negara dengan nilai fantastis, mencapai sekitar Rp14 triliun secara nasional . Di Kabupaten Subang sendiri, banyak sekolah yang menerima anggaran ratusan juta hingga miliaran rupiah. Namun di lapangan, banyak yang mempertanyakan: kemana perginya uang itu?
Yang Terjadi di Lapangan:
· Anggaran miliaran cair, pekerjaan hanya "penampilan luar" — pengecatan, tambal sulam, bukan rehabilitasi menyeluruh
· Bahan bangunan diragukan kualitasnya — material tidak sesuai spesifikasi, diduga mark-up harga
· Pekerja didatangkan dari luar daerah — warga lokal tidak tersentuh manfaat ekonomi
· P2SP diduga diintervensi pihak luar — tidak murni dari unsur sekolah, komite, dan tokoh masyarakat setempat
· Minim transparansi — papan informasi proyek seringkali tidak ada atau tidak jelas
· Pungutan liar marak — sudah ada kasus di daerah lain di mana oknum meminta "fee" dari anggaran revitalisasi, bahkan ada yang sudah ditangkap polisi
💡 Ini Uang Rakyat, Bukan Dompet Pribadi!
Anggaran revitalisasi sekolah adalah amanah untuk anak bangsa. Bukan untuk dikantongi oknum pejabat, kontraktor, atau pihak tertentu. Setiap rupiah yang hilang adalah masa depan pendidikan yang dirampok.
⚖️ Siapa pun yang menyalahgunakan dana ini, ingatlah:
· Uang negara ada pertanggungjawabannya
· BPK, APH, dan hukum sedang mengawasi
· Kasus serupa di daerah lain sudah bermunculan dan tersangkut diproses hukum
· Tuhan tidak tidur, rakyat tidak lupa
📢 Seruan untuk Semua Pihak:
Kepada Pelaksana & Pejabat: Gunakan anggaran sesuai RAB, jujur, dan transparan. Jangan sampai miliaran rupiah hanya jadi "bancakan" segelintir orang sementara bangunan sekolah tetap memprihatinkan.
Kepada Warga: Jadilah pengawas. Jika melihat kejanggalan — laporkan! Transparansi bukan permintaan, itu HAK RAKYAT.
Kepada Aparat Penegak Hukum: Awasi dan tindak tegas. Jangan biarkan dana pendidikan yang seharusnya membangun masa depan, justru menjadi sarang korupsi.
"Anggaran revitalisasi sekolah adalah masa depan anak-anak kita. Jika ini dirampok, kita bukan sekadar kehilangan uang — kita mencuri harapan generasi penerus. Diam adalah persetujuan. Bersama kita awasi, bersama kita jaga."
